Ekonomi Perbatasan Tergantung Ke-Malaysia

0
921
Memperihatinkan_Masyarakat perbatasan saat melintasi jalan tikus yang menghubungkan desa jasa menuju desa nanga bayan kecamatan ketungan hulu.jpg (2)
Memperihatinkan_Masyarakat-perbatasan-saat-melintasi-jalan-tikus-yang-menghubungkan-desa-jasa-menuju-desa-nanga-bayan-kecamatan-ketungan-hulu Kabupaten Sintang

LINTASKAPUAS.COM, SINTANG- Akibat Terputusnya ekonomi masyarakat perbatasan dengan ekonomi nasional merupakan buah dari berpuluh tahun kebijakan pembangunan yang terpusat di Pulau Jawa. Kebijakan itu menempatkan wilayah perbatasan sebagai halaman belakang yang terabaikan.
Nasionalisme yang membabi buta, dan sentralisasi ekonomi yang menempatkan daerah di luar Jawa sebagai daerah modal untuk dieksploitasi, telah menutup mata terhadap realitas kesenjangan itu. Di ujung kekuasaan Orde Baru, kesenjangan itu membuahkan konflik etnis yang berdarah-darah di beberapa wilayah Kalimantan, juga di beberapa wilayah Indonesia.
Akibat dari ketidak pedulian pemerintah terhadap kehidupan diperbatasan sehingga banyak warga Indonesia yang menggantungkan hidupnya dengan bekerja atau menjual hasil bumi ke Malaysia, bukanlah cerita baru bagi warga yang berada perbatasan. Selain karena lebih dekat, factor keluarga kadang membuat mereka lebih memilih negeri Jiran itu sebagai sandaran hidup, “kalau berbicara nasionalisme, komitmen masyarakat perbatasan tidak perlu di ragukan lagai. NKRI, tetap merupakan harga mati. Namun, di karenakan kesulitan mata pencaharian dan mengalami kendala dalam pemasaran hasil bumi, warga perbatasan lebih memilih ke Malaysia,” ungkap Warga desa Jasa Sukambali kepada Wartawan.
Prioritas pembangunan wilayah perbatasan sudah dicetuskan sejak tahun 2008, namun hingga saat ini kondisinya masih seperti dulu, malahan lebih barang dari kondisi yang terdahulu. Selain itu, justru masyarakat perbatasan dipersulit lagi dengan adanya operasi yang digelar aparat kepolisian bulan lalu yang memutus akses perekonomian masyarakat perbatasan.
Mantan pensiunan TNI yang sudah menetap didaerah perbatasan, Sukambali mengatakan, pilihan warga perbatasan Pergi ke Malaysia, bukan karena harga barang lebih murah. Tetapi kerena di Negara tersebut, ada penampung hasil bumi dari masyarakat, yang di Indonesianya tidak ada. “Bahkan, di negara itu, ada barang yang masih bisa di barter,”katanya.
Sukambali mencontohkan, salah satu hasil bumi yang di jual adalah sayur-sayuran maupun kulit kayu memiliki nilai tersendiri. Oleh karena itu, ketika terbentur pada jarak yang jauh dan kondisi alam yang tidak memungkinkan, warga perbatasan kemudian berjualan ke Malaysia. “Langkah ini hampir di lakukan tiap hari. Sebab, untuk pergi ke sana, bisa di lakukan dengan berjalan kaki dalam beberapa jam saja,” tuturnya.
Hal lain yang membuat warga memilih ke Malaysia adalah factor keluarga. Apalagi, tidak sedikit dari warga perbatasan yang masih memiliki kaum kerabat yang telah menjadi warga di Malaysia. Jadi, ketika keluar masuk Malaysia, tidak memiliki masalah yang berarti. “Kita ini dengan negara tetangga, masih satu rumpun. Seperti, warga perbatasan Sepauk dan Kabupaten Sekadau yang memiliki keluarga yang berbeda,” jelasnya.
Sukambali menambahkan, ketika mencuatnya Isu Blok Ambalat yang membuat hubungan dua Negara memanas, warga perbatasan merupakan warga yang paling resah. Sebab, warga perbatasan melihat langsung kesenjangan yang besar antara warga perbatasan dan Malaysia. Belum lagi, peralatan mereka yang lebih canggih di banding kita.
“Kita cukup khawatir pada waktu itu. Terlebih, Desa Jasa bedekatan langsung dengan Malaysia.Oleh karena itu, dalam pengembangan dan pembangunan kawasan perbatasan, peran dan perhatian serius dari pemerintah sangat di perlukan. Supaya warga perbatasan tidak terus menerus merasa sebagai anak tiri karena kurang merasakan pembangunan,”pungkasnya(Hery Lingga)