Jalan Kaki 1 Jam Demi Menempuh Pendidikan

0
1709

Perjuangan Pelajar Dusun Terumbuk Pergi ke Sekolah

Sejumlah pelajar Dusun Terumbuk tampak riang usai pulang sekolah di Lanjing. Meski harus berjalan kaki kurang lebih satu jam, mereka rela menjalani rutinitas tersebut untuk menuntut ilmu. Foto : Yusrizal Bota
Sejumlah pelajar Dusun Terumbuk tampak riang usai pulang sekolah di Lanjing. Meski harus berjalan kaki kurang lebih satu jam, mereka rela menjalani rutinitas tersebut untuk menuntut ilmu. Foto : Yusrizal Bota

DUSUN Terumbuk, Desa Gemba Raya adalah salah satu dusun di Kecamatan Kelam Permai yang tidak begitu jauh dari kota kecamatan. Meski demikian, masyarakat setempat khususnya para pelajar Sekolah Dasar (SD) belum mendapatkan kemudahan akses pendidikan.

KAKI-kaki kecil itu tampak lincah melewati jalan tanah kuning berlumpur. Sambil bercanda dengan temannya dibawah diterik matahari, mereka bergegas pulang kerumahnya.

Bocah itu adalalah Yanti, pelajar SD dari Dusun Terumbuk yang sekolah di Lanjing. Murid kelas 5 SD ini adalah satu dari puluhan pelajar di daerah itu yang terpaksa bersekolah ke luar kampung karena belum tersedianya sarana pendidikan di daerah tersebut.

Perjuangan mereka pergi ke sekolah bukannya tanpa pengorbanan. Mengingat, sekolah dasar terdekat yang berada di Lanjing, Kecamatan Kelam Permai jaraknya cukup jauh dari Dusun Terumbuk.

Untuk menjangkau sekolah, mereka harus berjalan kaki selama kurang lebih satu jam melewati hutan dan jalan setapak. Jalan yang dilewati adalah jalan pintas. Bila menggunakan jalan yang lazim digunakan masyarakat, perjalanan memakan waktu lebih lama.

Bagi orang tua murid yang lumayan mampu, sepeda motor adalah alternatif utama untuk mengantarkan anaknya ke sekolah. Namun, bagi orang tua yang mengalami keterbatasan ekonomi, jalan kaki adalah pilihan yang rasional.

Karena sekolahnya cukup jauh, pelajar SD didaerah tersebut harus berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat sampai ke sekolah. Tak jarang, mereka berangkat pukul 05.00 WIB pagi.

Katarina, warga setempat membenarkan kondisi perjalanan anak-anak yang sangat jauh dalam menuntut ilmu. Ia mengatakan, kondisi tersebut sudah berlangsung lama bahkan hingga sekarang. “Dikampung kami tidak ada sekolah, anak-anak disini sebagian besar bersekolah di Lanjing yang jaraknya cukup jauh dari sini,” katanya.

Tak hanya jauh, kata ibu dua anak ini, jalan yang dilewati adalah jalan tanah. Ada juga jembatan kecil yang harus dilewati dengan hati-hati. “Bila musim banjir, jalan yang biasa dilewati anak-anak sini untuk pergi sekolah juga tergenang cukup tinggi. Kalau tak ada sampan, mereka terpaksa berenang,” katanya.

Ia berharap, pemerintah memperhatikan kondisi tersebut, minimal membangun sekolah jauh untuk masyarakat Terumbuk. “Kami sangat mengharapkan sarana pendidikan yang tidak begitu jauh dari perkampungan,” harapnya.