Kunjungi Pedalaman Silat Hulu, Lasarus Dicurhati Jalan Rusak

0
1043
Wakil Ketua Komisi V Lasarus naik longboat saat mengunjungi pedalaman Silat Hulu tepatnya di Desa Entebi

LINTASKAPUAS.COM,KAPUAS HULU-Masih ingat dengan kejadian tragis yang menimpa siswa PAUD/TK Desa Nanga Lungu belum lama ini? Saat kejadian itu, empat siswa tenggelam di Riam Ngeri, Kecamatan Silat Hulu Kabupaten Kapuas Hulu ketika pergi ke Nanga Dangkan melalui Sungai Silat, untuk mengikuti Porseni. Agar masalah serupa tidak terulang, warga meminta akses jalan diperbaiki.

Permintaan itu disampaikan wargao saat kunjungan kerja Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus ke Desa Entebi, Kecamatan Silat Hulu, Minggu 27 Mei lalu. Mereka mendesak anggota DPR RI asal Paoh Desa ini agar mengkomunikasikan serta mendorong Pemda Kapuas Hulu untuk memperbaiki jalan.

Menuju Desa Entebi tidaklah mudah. Jika melewati jalan Sintang-Kapuas Hulu, harus belok kanan di Simpang Dangkan. Perjalanan darat hanya sampai di Dusun Pengga, Desa Landau Badai, Kecamatan Silat Hulu. Selanjutnya menggunakan longboat melintasi Sungai Silat. Jalur sungai terpaksa dipilih karena jalan darat tak bisa dilewati.

Naik longboat dari Sungai Pengga, ada dua desa yang dilewati sebelum sampai ke Entebi. Yakni Desa Landau Badai dan Desa Nanga Lungu. Meski jarak tidak begitu jauh yakni sekitar 20-30 menit perjalanan menggunakan longboat, moda transportasi ini biayanya cukup mahal. Per orang harus membayar Rp100 ribu.

“Biayanya memang cukup mahal. Karena perjalanan dari Sungai Pengga Desa Landau Badai hingga Desa Entebi bisa menghabiskan bensin campur hingga 10 liter. Harga solar maupun bensin campur sekitar Rp15 ribu,” jelas Sebino, warga Desa Nanga Entebi.

Menurut pria yang sudah dua tahun bekerja sebagai penambang longboat ini, jalur sungai dipilih karena jalan yang dibuka sejak 2004 lalu tak pernah diperbaiki pemerintah. Sekarang, kondisinya penuh semak dan sungai-sungai kecil tidak memiliki jembatan lagi. “Pihak desa sering mengusulkan, tapi belum pernah diperbaiki hingga saat ini,” katanya.

Karena mengandalkan jalur sungai, perjalanan yang seharusnya lebih cepat jika lewat jalan darat, terpaksa menghabiskan waktu lebih lama. Contohnya ke desa paling ujung dari Sungai Silat yakni Riam Tapang. Untuk sampai di desa itu memakan waktu sehari penuh. “Biayanya jutaan rupiah. Makanya, kami yang berada di perhuluan Sungai Silat ini sangat mengharapkan perbaikan jalan,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan Edi, warga Silat Hulu. Ia menyebut, daerah perhuluan Sungai Silat jauh tertinggal dibanding daerah lain karena masalah transportasi yang sulit. “Mohon kami dibantu agar bisa lepas dari ketertinggalan ini,” harapnya.

Kepala Desa Entebi, Sak Sirait mengatakan desa yang dipimpinnya sangat terbelakang karena infratsruktur jalan tidak memadai. Bahkan, akibat kurangnya perhatian pemerintah, warga Desa Nanga Lungu jadi korban. “Mereka ingin mengikuti Porseni di Nanga Dangkan. Akibat jalan tak bisa dilewati, mereka lewat jalur sungai. Akibatnya enam orang jadi korban. Empat diantaranya anak-anak yang merupakan putra-putri terbaik Suku Dayak Suang Ensilat,” bebernya.

Dengan hadirnya Anggota DPR RI di Desa Entebi, ia berharap bisa mengkomunikasikan masalah tersebut pada Bupati Kapuas Hulu. “Bapak kan punya link kesana. Mohon disampaikan ke Bupati Kapuas Hulu. Mengingat kondisi jalan sangat memprihatinkan,” katanya.

Komunikasikan dengan Bupati

Wakil Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus mengatakan dirinya datang ke Entebi karena peduli dengan kondisi masyarakat. Soal jalan rusak menuju Desa Entebi, ia menegaskan bahwa penanganannya merupakan kewenangan pemerintah kabupaten. Meski demikian, ia berjanji akan mengkomunikasikan masalah tersebut pada Bupati Kapuas Hulu.

“Saya akan komunikasi dengan Pak Bupati. Agar, Pemda memberi perhatian. Mudah-mudahan saya bisa membantu Pak Bupati dan masyarakat untuk mempercepat perbaikan jalan. Saya sudah lihat sendiri kondisinya. Inilah tujan saya datang kesini (Entebi-red),” tegasnya.

Sebelumnya, kata Lasarus, dirinya pernah komunikasi secara personal dengan Bupati Kapuas Hulu. “Beliau pernah bilang bahwa jalan Silat Hulu akan diperhatikan. Itu janji beliau pada saya saat kami bertemu,” jelasnya.

Ia mengatakan, keberadaan dirinya sebagai anggota DPRD di Komisi V juga membuat kepala daerah memerlukan bantuan. “Inilah yang akan saya jadikan sebagai posisi tawar, sehingga bupati bisa melaksanakan kegiatan pembangunan di Silat Hulu ini. Agar jalan Silat Hulu lebih bagus dibanding kondisi sekarang,” katanya.

Menurut Lasarus, secara politik warga Silat Hulu dirugikan dengan tidak adanya wakil di DPRD Kapuas Hulu. Karena, keberadaan wakil dari suatu daerah akan mendorong suatu pembangunan, salah satunya perbaikan jalan. Meski demikian, kepala daerah dituntut adil untuk merealiskan program pembangunan untuk semua daerah. Apalagi berkaitan dengan kebutuhan vital dan mendesak.

Mengenai kasus meninggalnya warga Desa Nanga Lungu akibat tenggelam di Sungai Silat, politisi PDIP ini menyampaikan bela sungkawa sedalam-dalamnya. “Terkait kasus ini, saya sempat berkomunikasi dengan pihak Basarnas dan meminta mereka turun ke lapangan untuk membantu masyarakat. Komunikasi saya bisa lebih mudah karena Basarnas merupakan salah satu mitra kerja kami di Komisi V,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here