Yut, Pemuda Yang Enggan Balik Ke Orang Tuanya

0
670

Yut, Pemuda Yang Enggan Balik Ke Orang Tuanya.
Yut, Pemuda Yang Enggan Balik Ke Orang Tuanya.

LINTASKAPUAS.COM- SINTANG, “Orang panggil aku Yut, ye-u-te,”ungkap seorang pemuda tanggung berkemeja pink yang duduk di kursi panjang mengeja namanya saat ditemui di depan ruang kepala bidang rehabilitasi sosial (Rehsos) kantor Sosnakertrans Sintang belum lama ini. Pemuda berambut lurus kaku ini mengaku bernama asli Dipi. Ia mengaku berasal dari dusun Pengali Sanak desa Sejirak kecamatan Ketungau Hilir. Sudah hampir seminggu lebih, Yut alias Dipi memilih tinggal di kantor tersebut.

“Aku gak mau pulang. Mamak aku gak mau ngomong dengan aku. Aku gak bisa menghidupi diri,”ujarnya lagi.

Yut alias Dipi adalah sosok pemuda yang aneh. Ia diantarkan oleh warga Tempunak ke kantor Sosnakertrans sekira bulan Maret lalu, lantaran di temukan menghanyutkan diri pada sebuah batang kayu. Saat itu pihak sosnakertrans segera melakukan koordinasi dengan kepala desa yang disebutkan oleh Yut. Yut pun dikembalikan ke kampungnya dan berkumpul dengan keluarganya. Namun tak lama kemudian, petugas dai Satpol PP Sintang kembali mengantarkan Yut ke kantor Sosnakertrans. Menurut keterangan dari petugas Satpol PP, Yut di temukan seperti orang hilang di lanting sekitar depan kantor bupati. Saat itu pihak Sosnakertrans kembali menghubungi kepala desa Yut dan meminta agar pihak keluarga Yut bisa kembali mengambil Yut. Menurut penuturan pihak Sosnakertrans, kepala desa tak kunjung datang dan bahkan mengatakan “angkat tangan” untuk mengurus Yut. Namun pernah juga salah satu abang kandung Yut datang menemui sang adik di kantor Sosnakertrans.

Lantaran tak mau di bawa pulang ke kampungnya kembali, akhirnya pihak Sosnakertrans mengupayakan pekerjaan untuk Yut. Sehingga Yut bisa memiliki penghasilan dan kegiatan yang lebih berarti.

Kabid Rehsos dinas Sosnakertrans Sintang Mastora kepada awak media ini mengatakan bahwa pihaknya meminta bantuan owner cafe Dhea untuk untuk bisa menerima Yut sebagai salah satu karyawan. Namun hanya beberapa sekitar 2 bulan saja Yut bekerja di cafe Dhea. Pihak Cafe Dhea menguhungi kembali Sosnakertrans dan meminta agar Yut segera diambil.

“Informasinya si Yut ini susah di atur. Suka merajok dan marah,” ujar Mastora.

Entah bagaimana ceritanya, si Yut akhirnya bisa kembali ke bekerja di cafe Dhea untuk kali yang kedua. Namun itupun tak berlangsung lama. Ulah Yut membuat pihak manajemen Cafe Dhea harus kembali meminta Sosnakertrans untuk kembali mengambil Yut. Kali ini ulah Yut di nilai keterlaluan oleh pihak Cafe Dhea dan Yut terpaksa di berhentikan sebagai karyawan. Yut kembali dibawa dan harus tinggal sementara di kantor Sosnakertrans hingga ditemukan pihak yang bersedia menampungnya kembali.

“Akhirnya kami menghubungi pihak panti Asuhan yang berlokasi di Sungai Sawak desa Sungai Ukoi. Kami berharap Yut bisa mendapatkan bimbingan dari pihak panti sehingga kelak bisa diterima oleh orang tuanya. Tapi rupanya itu hanya berlaku beberapa saat, pihak pantu asuhan justru mengantarkan Yut ke kantor dinas kembali dan menyatakan tak sanggup membina Yut,”jelas Mastora.

Yut sendiri saat ditanya mengapa ia harus keluar dari Cafe Dhea,ia mengatakan bahwa untuk yang kedua kalinya ia mengaku di usir oleh pihak manajemen. “Aku sudah diusir sama Ibu, Jadi aku malu dan gak mau pulang lagi ke cafe Dhea. Kalau dulu mau kembali, karena mereka dulu belum mengusir aku,”tuturnya.

Yut mengaku bekerja sebagai tukang cuci piring di cafe yang kerap menjadi pilihan tempat nongkrong banyak kalangan itu. Menurutnya banyak sekali piring dan barang kotor yang harus ia cuci. “Aku marah sama mereka, kalau aku sedang cuci tak ada yang membantu. Aku tidak mau kalau sedang cuci piring diganggu. Itu kan pekerjaanku, jadi tak boleh ada yang ganggu,”katanya.

Ucapan Yut tidak bisa begitu jelas untuk dipahami. Bahasanya terbata-bata dan kurang jelas. Pihak Sosnakertrans sendiri binggung dengan kondisi Yut. Apakah Yut sosok pemuda yang mengalami keterbelakangan mental atau sedang mengalami stress atau mungkin karena hal lain.

“Dia bilang tidak mengalami gangguan jiwa. Karena dia pernah berkata bahwa tak mau di kirim ke rumah sakit jiwa, karena dia tidak sakit jiwa. Tapi sikapnya memang membingungkan. Tidak bisa di suruh dan tidak bisa di larang. Semuanya harus atas kemauan dia sendiri. Kadang dia seharian tidak mau mandi, kalau kita suruh mandi dia marah dan merajok. Tingkahnya akan jadi aneh kalau sudah begitu, terkadang dia membakar rambutnya sendiri dengan korek api. Aksinya itu seperti mengharapkan orang lain agar kasihan dengan dia dan meminta perhatian sehingga apa yang menjadi kemauannya bisa dituruti. Makan juga dia pemilih, harus minta nasi padang terus atau paling tidak harus ada lauknya,”tutur Mastora.

Saat ini Yut memang tinggal di kantor Sosnakertrans, karena memang tak ada rumah khusus yang bisa digunakan untuk menampungnya. Untuk makan sehari-hari, para petugas di dinas Sosnakertrasn secara bergiliran membawakan makanan untuk Yut.

“Mau tak mau harus begitu. Kalau setiap hari harus dibelikan nasi padang, susah juga kita. Anggaranya mau dari mana,”ujar Mastora.

Yut adalah pemuda yang boleh di bilang aneh. Kepada wartawan, ia mengaku pernah dibuatkan pondok khusus untuk tempat tinggal oleh orang tuanya. Namun ia justru merusak pondok itu.”Aku gak mau tinggal sendiri, karena aku gak bisa menghidupi diri sendiri. Aku gak mau noreh, karena kalau noreh ngumpulkan getahnya lama. Lama dapat duit. Jadi aku mau minta duit saja sama mereka (orang tua :ed),”ujar Yut.

Pihak Sosnakertrans sendiri kebingungan dengan keberadaan Yut. Menurut Mastora, jika memang orang tua Yut sudah benar-benar tidak bersedia merawat Yut, maka menurutnya harus ada penyerahan secara resmi kepada pemerintah sehingga status Yut bisa ditetapkan sebagai anak negara.

“Harus ada semacam surat penyerahan bahwa benar keluarga tidak lagi bersedia mengurus si anak. Dengan surat itulah status Yut bisa diurus sebagai anak negara dengan penetapan dari pengadilan. Kalau tidak begitu jika suatu saat ada masalah, kami bisa dipersalahkan,”ujarnya.

Radini, manajeman sekaligus owner cafe Dhea membenarkan bahwa Yut memang pernah dititipkan bekerja di cafe miliknya oleh pihak Sosnakertrans.

“Terus terang akhirnya kami harus mengatakan angkat tangan untuk mengurus anak itu. Anaknya susah di atur dan semua maunya se enaknya sendiri. Tapi kalau masalah pekerjaan, saya acungi jempol. Kerjanya bagus. Hanya saja tabiatnya itu yang minta ampun lah,”ujar Radini.

Menurut Radini, Yut pernah membuang sepiring nasi untuk jatah makannya lantaran hanya berlauk ikan asin dan sayur. Kalau sudah begitu, Yut tak mau makan dan akan berusaha menyakiti dirinya sendiri untuk mendapatkan perhatian darinya.

“Dia mintanya minimal makan dengan lauk telur. Sekali makan minta 2 telor dadar goreng. Kalau tidak dituruti, dia akan merajok. Pernah saya harus rebutan pisau dengan dia karena dia mau menyayat kakinya dengan pisau. Karena itulah saat itu saya minta bu Mastora mengambilnya,”tutur Radini.

Namun akhirnya Radini mengaku luluh saat Yut melalui Sosnakertrans minta untuk kembali ke cafenya. Meski diminta berjanji untuk merubah sikapnya, namun ternyata Yut tak banyak berubah. Menurut Radini, Yut dipekerjakan sebagai tukang cuci perabotan di cafenya. Anehnya Yut akan marah bila ada orang lain yang membantunya. Yut juga akan marah jika saat ia mencuci piring, tiba-tiba ada karyawan lain yang menambahkan cucian gelas atau perabot bukan piring.

“Kalau malam minggu di sini kan ramai, terkadang ada yang pesan minuman dan gelasnya masih kotor, kan terpaksa karyawan lain mengambil dan mencuci sendiri gelas yang diperlukan. Kalau sudah begitu, dia marah, merajuk dan tidak mau bekerja lagi. Lebih seringnya kalau sudah begitu dia akan duduk jongkok sambil menangis. Kalau tidak begitu dia akan mengambil barang tajam dan mencoba melukai dirinya. Saya kan jadi takut, kalau misalnya dia sampai kenapa-kenapa di tempat saya ini,”beber Radini.

Namun Radini mengakui bahwa hasil kerja Yut memang memuaskan. Piring dan perabot yang di cuci Yut semuanya bersih. Bila Yut mendapat tugas mengepel lantai atau menyapu halaman, dipastikanya hasilnyya pasti memuaskan. “Beda dengan yang lainnya. Yut kalau ngepel lantai, benar-benar kain lapnya di cuci bersih. Sebenarnya saya senang dengan hasil kerja dia itu, tapi sifatnya itu yang membuat saya terpaksa nyuruh dia keluar dan berpesan untuk tidak kembali lagi ke sini,”katanya.

Dikisahkanya pula bahwa Yut pernah membuang uang sebagai upah yang diberikan kepadanya. Saat itu menurutnya Yut diberikan upah sebesar Rp 350 ribu. Alasan Yut marah karena jumlahnya beda dengan karyawan lainnya.

Yut alias Dipi memang aneh. Pemuda yang tak tau persis berapa umurnya ini mengaku sebagai anak ke 4 dari Paci (ibunya) dan Loking (bapak Tirinya). Ia hanya mengatakan bahwa teman-teman seumuranya yang sekolah kini telah lulus SMA. Yut juga mengaku pernah sekolah tapi hanya sampai kelas 5 SD. Yut mengaku memiliki 7 saudara dan semuanya laki-laki. Tiga abangnya sudah berkeluarga sedangkan 3 adiknya belum. Yut juga pernah bercerita pada salah satu petugas di Sosnakertrans, bahwa bapak tirinya yang nama aslinya tak diketahuinya adalah sepupunya. Yut juga pernah berkata bahwa ia ingin di bawa ke Jakarta dan tidak mau mati di kampungnya. Ia bercita-cita membeli motor dan mobil. Yut alias Dipi, memang pemuda yang terlihat bingung dan membingungkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here