Hutan TNBK Duga Dibabat Malaysia, Tim Gabungan Belum Temukan Pencurian Kayu

0
1505
H. Wan Taufiqurrahman
H. Wan Taufiqurrahman

LINTASKAPUAS.COM,KAPUAS HULU-Masih adanya infromasi aktivitas pembalakan hutan kawasan taman nasional betung kharihun (TNBK) di kawasan perbatasan tepatnya di kecamatan Batang Lupar mengejutkan banyak kalangan di kabupaten kapuas hulu. Karena selama ini TNBK sangat getol melarang masyarakat lokal mengambil sumberdaya hutan dikawasan, namun pada saat hutan di babat Malaysia, TNBK dimana?

Itulah pertanyaan yang mengemuka ketika menemui sejumlah wakil rakyat di gedung DPRD Kapuas Hulu, Selasa (27/1). “Kalau memang ada aktivitas penebangan hutan kawasan, TNBK mesti segera bergerak. Jika sudah terjadi, kemana TNBK yang selama ini melarang keras warga lokal disekitar kawasan mengambil sumberdaya hutan,” tutur Rajuliansyah Ketua DPRD Kapuas Hulu.

Dikatakan Rajuli, secara pribadi dirinya tak sependapat atas tindakan TNBK sebagai pemilik kawasan yang terlalu keras melarang masyarakat. Jangankan mengambil kayu, rotan saja untuk keperluan diri sendiri dalam keluarga tak bisa. Untuk itu jika memang telah terjadi penebangan hutan diperbatasan diharapkan segera bertindak, karena selain masalah kehutanan juga masalah kedaulatan republik ini.

Ditempat terpisah, angota Fraksi Golkar DPRD Kapuas Hulu H. Wantaufiqurrahman menagaskan, tak ada pilihan lain, TNBK mesti segera bergerak sesuai dengan tugas dan fungsinya, sebagai tanggung jawab moral pemilik kawasan. “Aparat dari TNI saya kira sudah cukup mengamankan toritorial NKRI ini. Sekarang tinggal bagaimana eksen dari pemilik kawasan dalam hal ini TNBK,” tutur Wan Taufiq.

Wan Taufiq mengaku, TNBK maupun TNDS tidak pernah berkoordinasi dengan DPRD, baik terkait itu masalah penanganan hutan kawasan maupun hal-hal lain menyangkut masyarakat di sekita kawasan TNBK. “Dalam waktu dekat ini kami akan mengagendakan pemanggilan dan rapat kerja dengan pihak TNBK, kami ingin tahu apa program kerja mereka untuk masyarakat disekitar kawasan,” ungkapnya.

Senda dengan Wan Taufiq, anggota komisi A yang juga anggota Fraksi Partai Golkar di DPRD Kapuas Hulu, Januar meminta aparat tegas menindak lanjuti informasi masyarakat terkait adanya indikasi pembalakan hutan dikawasamn perbatasan negara. Karena masalah tersebut tidak saja menyangkut masalah kehutanan, akan tetapi menyangkut masalah wibawa dan kedaulatan negara Indonesia ini.

“Masalah infomasi pencurian kayu di kawasan taman nasional mesti disikapi serius oleh aparat TNI dan Polri. Begitu juga dengan TNBK sebagai pemilik kawasan, diharapkan menindak lanjuti dengan sungguh-sungguh. Karena, TNBK sebagai pemilik kawasan, secara tegas melarang masyarakat lokal mengambil sumberdaya hutan, giliran cukung mesti lebih tegas lagi dalam bertindak,” pinta Januar.

Informasi yang berhasil Pontianak Post himpun, tim yang beranggotakan Koramil 03 Batang Lupar dan TNBK serta masyarakat sekitar kawasan sebagai penunjuk jalan menuju lokasi yang di duga ada penebangan hutan, tidak ditemukan aktivitas penebangan di wilayah perbatasamn Indonesia. Hanya saja aktivitas penebangan hutan di kawasan perbatasan masih berada di wilayah negara Malaysia.

Tim yang terdiri dari 11 orang, masing-masing 2 orang masyarakat, 6 orang dari TNBK (kehutanan) dan 3 orang anggota koramil 03 Batang Lupar, sudah sampai dilokasi yakni pada patok 7.16-7.19. Di lokasi tersebut memang ada ditemukan camp dekat wilayah Indonesia, hanya saja camp itu masih berada di wilayah Malaysia, sekitar 800-1 km dari batas negara dan itu merupakan posisi terdekat.

“Yang di informasikan masyarakat itu masih diwilayah malaysia, hanya saja dekat dengan perbatasan negara sekitar 800-1 km. Sementara untuk patok 7.22 masih jauh sekiatr 3 km jaraknya dengan batas negara. Belum ada penebangan hutan masih utuh seperti di patok 9.42. Informasinya masih simpang siru,” tutur sember harian ini yang meminta tidak dicantumkan indentitasnya, Selasa (27/1) kemarin.

Sementara informasi dari masyarakat lainnya pada patok 9.42 tim belum bisa sampai sana, karena sudah kehabisan logistik setelah menempuh perjalanan 7 hari 7 malam berjalan kaki.“Kami sudah kehabisan logistik, kami sudah tak makan nasi tiga hari. Kami sampai patok 7.19. 7.22-7.27,” terang nya. Seraya mengatakan, dari 11 orang, 1 orang anggota dari kehutanan sakit, menunggu di sungai Takalan bersama dua orang lainnya. Dengan demikian hanya 8 orang saja yang sampai lokasi patok.

“Di patok 9.42 daerah sebabay, gunungnya tinggi. Dari kejauhan memang ada nampak jalan loging. Cuma kmai belum mengecek sampai ke sana. Karena logistik kami habis dan kami sudah kembali ke Lanjak. Untuk mencapai lokasi yang ada jalan loging mesti menempuh perjalanan 20 km lagi dari titik terakhir yang tim kunjungi selama perjalanan telusuri kawasan perbatasan negara,” terangnya