Thursday, October 15, 2026

Mahasiswa Ketapang Desak Pencopotan Kepala Jobber dan SBM Pertamina

0
27
Caption: Kepala Jobber Ketapang, Erham saat menerima surat tuntutan kepada Jobber dari ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus. (Foto Istimewa)

LINTASKAPUAS I ‎KETAPANG – Ratusan Massa aksi yang tergabung dari organisasi kemahasiswaan Cipayung Plus dan mahasiswa mendatangi kawasan Terminal Fuel Jobber Ketapang mendesak manajemen puncak Pertamina Patra Niaga mencopot kepala atau manajer Jobber Ketapang apabila persoalan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi saat ini tidak segera teratasi.
‎
‎Desakan tersebut menjadi salah satu poin utama tuntutan massa aksi yang menyoroti kelangkaan BBM dan antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kabupaten Ketapang. Massa menilai perlu ada keterbukaan dari pihak yang bertanggung jawab terhadap pasokan dan distribusi BBM di daerah.
‎
‎Dalam tuntutannya, massa aksi meminta Jobber Ketapang membuka informasi mengenai total kuota BBM yang diperuntukkan bagi Kabupaten Ketapang, termasuk mekanisme pembagian distribusi ke setiap SPBU. Mereka juga mempertanyakan apakah pendistribusian selama ini telah berjalan secara adil atau terdapat persoalan yang berpotensi menimbulkan ketimpangan distribusi.
‎
‎Selain itu, massa mendesak pihak Jobber agar lebih sigap dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat sehingga penyebab kelangkaan dan kondisi pasokan BBM dapat diketahui secara utuh.
‎
‎Massa aksi juga meminta penjelasan mengenai kapasitas penampungan BBM di Ketapang, apakah masih memadai untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau sudah membutuhkan penambahan fasilitas. Mereka turut mendorong pengajuan pembangunan Jobber baru sebagai langkah antisipasi agar persoalan serupa tidak terus berulang.
‎
‎Tak hanya kepala Jobber Ketapang, massa aksi juga mendesak Pertamina mencopot Sales Branch Manager (SBM) Wilayah Ketapang dan Kayong Utara apabila dinilai tidak mampu mengatasi persoalan kelangkaan BBM yang sedang terjadi.
‎
‎Situasi sempat memanas ketika massa aksi tiba di lokasi yang telah ditentukan. Menurut massa aksi, pada awal kedatangan mereka, kepala Jobber Ketapang dan pimpinan SBM Ketapang enggan menemui massa untuk berdialog.

“Kita marah, untuk menyampaikan aspirasi masyarakat jarak kami diatur sejauh 500 meter, kami ikuti tapi mereka digaji oleh negara Kepala Jobber Ketapang malah enggan menemui kami, mungkin dia alergi atau takut ketidakbecusannya dalam bekerja terlihat dihadapan mahasiswa,” ketus Ketua HMI Cabang Ketapang, Iqbal.

Selain itu, Kepala Ketapang yang bernama Erham ini tidak banyak berbicara banyak, dan tidak ikut menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat dan hilang ketika aksi mendorong motor dilakukan bersama massa dan pihak SBM.
‎
‎Padahal, massa aksi mengaku telah mematuhi ketentuan dengan tidak menggelar demonstrasi tepat di area Jobber Ketapang. Mereka memilih menyampaikan aspirasi di luar kawasan tersebut, dengan jarak sekitar 500 meter dari lokasi Jobber.
‎
‎Sikap tersebut disayangkan massa aksi karena mereka datang untuk meminta penjelasan secara langsung mengenai persoalan BBM yang berdampak pada aktivitas masyarakat. Massa menilai, di tengah kelangkaan dan antrean panjang yang terjadi, keterbukaan serta respons dari pihak yang berkaitan dengan distribusi BBM sangat dibutuhkan.
‎
‎Kepala Jobber Ketapang dan pimpinan SBM Ketapang baru bersedia hadir menemui massa setelah demonstran mengancam akan memindahkan aksi ke lokasi Jobber Ketapang.
‎
‎Perubahan sikap tersebut menjadi sorotan dalam aksi itu. Massa menilai pihak yang memiliki tanggung jawab terhadap pasokan dan distribusi BBM semestinya bersikap terbuka serta tanggap terhadap aspirasi masyarakat, tanpa harus menunggu adanya ancaman aksi di lokasi operasional.
‎
‎Bagi massa aksi, persoalan kelangkaan BBM bukan sekadar masalah antrean kendaraan di SPBU. Kondisi tersebut telah mengganggu aktivitas masyarakat dan memunculkan pertanyaan mengenai kepastian pasokan serta mekanisme distribusi BBM di Kabupaten Ketapang.
‎
‎Karena itu, massa menegaskan perlunya penjelasan terbuka dari pihak Jobber dan manajemen Pertamina Patra Niaga. Mereka juga meminta evaluasi terhadap jajaran pimpinan yang dinilai bertanggung jawab apabila persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan.
‎
‎Massa berharap tuntutan yang disampaikan tidak berhenti pada pertemuan dengan demonstran, tetapi ditindaklanjuti melalui langkah konkret untuk memulihkan distribusi BBM dan memberikan kepastian kepada masyarakat Ketapang.

(Ags)

error: Content is protected !!