LINTASKAPUAS | SINTANG — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten SINTANG kembali menjadi perhatian. Di tengah meningkatnya kewaspadaan terhadap munculnya titik panas dan lahan terbakar di sejumlah wilayah, empat perusahaan perkebunan mengambil langkah konkret dengan memperkuat peralatan pemadam kebakaran di jajaran kepolisian.
Empat perusahaan tersebut yakni PT Wahana Plantation and Products, PT Agro Gading Sejahtera, PT Grand Mandiri Utama, dan PT Semesta Sawit Lestari. Keempatnya menyerahkan bantuan sarana dan prasarana (sapras) pemadam kebakaran kepada lima Polsek jajaran Polres Sintang pada 28–29 Agustus 2026.
Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Manager Humas Region Sintang, Ronal Nainggolan, yang mewakili keempat perusahaan.
Peralatan yang diserahkan terdiri dari satu set perlengkapan pemadam kebakaran berupa pompa jinjing, adaptor machino, selang hydrant, selang spiral, dan jet nozzle, serta lima pasang sepatu boot AP
Untuk masing-masing Polsek penerima yakni, Polsek Sungai Tebelian, Polsek Sintang Kota, Polsek Kelam Permai, Polsek Dedai, dan Polsek Binjai Hulu
Bantuan ini diberikan ketika kewaspadaan terhadap karhutla di Sintang tengah meningkat. Beberapa hari sebelumnya, tim gabungan bersama Polsek Sungai Tebelian harus turun melakukan pemadaman karhutla di Desa Balai Agung. Sementara di wilayah Kecamatan Dedai, petugas melakukan verifikasi terhadap laporan titik panas dan menemukan lahan bekas terbakar dengan luas sekitar satu hektare.
“Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla bukan sekadar persoalan titik panas yang muncul dalam pemantauan, tetapi dapat berubah menjadi persoalan nyata ketika api mulai menjalar di lapangan.”
Manager Humas Region Sintang, Ronal Nainggolan, mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk dukungan nyata perusahaan terhadap upaya pencegahan dan penanganan potensi karhutla di wilayah Kabupaten Sintang. Ronal juga menegaskan bahwa empat perusahaan yang diwakilinya tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar serta turut berupaya menjaga lingkungan perkebunan dan desa-desa di sekitar wilayah operasional dari ancaman karhutla.
Bantuan sarana dan prasarana ini mendapat sambutan positif dari jajaran Polsek penerima. Peralatan yang diberikan dinilai dapat memperkuat kemampuan petugas di lapangan, terutama ketika harus bergerak cepat menghadapi kebakaran.
Karhutla memang bukan persoalan yang dapat ditangani oleh satu institusi. Ketika api mulai muncul, pemerintah, aparat keamanan, perusahaan, dan masyarakat dituntut bergerak bersama. Ketersediaan peralatan menjadi salah satu faktor penting agar api dapat segera dikendalikan sebelum berubah menjadi kebakaran yang lebih luas.










