Dewan Soroti Kinerja PDAM Ketapang

0
1296
Kantor PDAM Kabupaten Ketapang. (Foto Ags Fy)

LINTASKAPUAS I KETAPANG – Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Kabupaten Ketapang sampai saat ini dinilai belum memberikan pelayanan maksimal terhadap para pelanggannya, pasalnya selain air yang masih sering tidak mengalir, kondisi miris lainnya juga mengenai air PDAM yang keruh dan bewarna cokelat yang diduga tidak layak digunakan kerap dirasakan masyarakat Ketapang.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Ketapang, Antoni Salim menyayangkan kinerja PDAM Ketapang yang selama ini dinilai stagnan dan tidak memberikan pelayanan maskimal terhadap masyarakat khususnya para pelanggan.

“Masyarakat kerap mengeluh soal pelayanan air dari PDAM ini, bahkan seminggu air yang dialirkan sangat tidak layak digunakan untuk apapun,” ujarnya, Selasa (04/08/2020).

Ia mengaku, bahkan dirumahnya sejak sepekan belakangan air PDAM yang mengalir bukan lagi bewarna cokelat melainkan sudah hitam layaknya air lumpur.

“Ini bukan baru terjadi tapi sudah sering terjadi tidak hanya dikediaman saya tapi pelanggan lain, harusnya pihak PDAM mengevaluasi persoalan-persoalan ini untuk melakukan perbaikan-perbaikan,” ketusnya.

Antoni menilai, persoalan sengkeraut pelayanan air PDAM sama halnya dengan sengkeraut penentuan direktur definitif PDAM yang sampai saat ini tidak memiliki kepastian padahal proses rekrutmen telah dilakukan sejak beberapa bulan belakangan.

“Ini juga menjadi persoalan, karena tanpa adanya direktur defenitif tentu ada kebijakan-kebijakan atau hal prinsip yang tidak bisa dilakukan oleh pejabat sementara, sedangkan PDAM usaha yang berkaitan dengan kepentingan orang banyak,” nilainya.

Untuk itu, ia berharap selain persoalan pelayanan air yang layak diterima pelanggan, Antoni meminta Pemda melalui pihak terkait dapat segera menyelesaikan proses rekrutmen direktur PDAM definitif dengan berpatokan pada syarat dan ketentuan yang berlaku dalam proses rekrutmen direktur.

“Jadi direktur yang terpilih nanti harus benar-benar yang memiliki kemampuan serta sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan,” mintanya.

Sementara itu, Plt Direktur PDAM Ketapang, Juta mengaku kalau persoalan air keruh memang menjadi persoalan yang telah lama dialami pihaknya, penyebabnya berbagai macam.

“Termasuk karena adanya pipa yang pecah akibat galian proyek dalam kota, kemudian akibat hujan hulu yang mengakibatkan air gambut naik yang kita kesusahan mengelolanya sebab bahan kimia pengelolaan kita untuk bahan baku biasa sedangkan gambut harus spesial,” akunya.

Selain itu, Juta menerangkan penyebab lainnya juga karena kondisi pengolahan PDAM yang sudah sangat lama dan berusia yang seharusnya dilakukan peremajaan.

“Listrik padam juga menjadi penyebab air keruh pada tekanan pertama air didistribusikan, namun keruhnya biasa tidak lama berkisar 15 menitan,” tuturnya.

Juta menambahkan, persoalan lain yang mengakibat air keruh yakni jaringan pipa seluruh Ketapang yang belum pernah dibilas selama ini akibat terkendala biaya pembilasan yang cukup besar.

“Biayanya mencapat miliaran namun untuk pembilasan harus runut dengan pengolahan kita yang perlu direnovasi, kendalanya anggaran terlebih tahun 2020 akibat Covid-19,” tukasnya. (Ags Fy)