Lagu Dayak asal Ketapang Raih Juara 1 Dalam Lomba Tingkat Provinsi

0
849
Foto Alexander Wilyo saat menyanyikan lagu ciptaan Thomas Tion Sution yang berjudul “Babilakng Ka Motih Onu”. (Foto Istimewa)

LINTASKAPUAS I KETAPANG – Lagu Dayak asal Kabupaten Ketapang berjudul “Babilakng Ka Motih Onu” berhasil meraih juara satu dalam lomba lagu daerah tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang digelar oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalbar, Minggu (25/4). Lagu berbahasa Dayak Kualan ini ciptaan Thomas Tion Sution dan dinyayikan Alexander Wilyo berhasil memperoleh total nilai 2.389.

Saat dikonfirmasi, Penyanyi lagu tersebut, Alexander Wilyo mengaku tak menyangka lagu yang dinyayikannya bisa meraih juara 1 dalam lomba tingkat Provinsi Kalbar. Menurutnya lagu yang baru tercipta beberapa pekan lalu memang sengaja diikut sertakan pihaknya dalam lomba tanpa memikirkan menang atau kalah.

“Ternyata dipilih menjadi juara 1, kita sangat bersyukur karena biasanya daerah yang punya lagu dayak bagus itu dari Sintang, Landak dan lainnya,” katanya, Kamis (29/4).

Alex menerangkan, kalau lagu ini dibuat sebagai wujud kecintaan terhadap tradisi seni dan budaya khususnya yang ada di Ketapang.

“Tujuannya agar semua pihak khususnya anak-anak muda tahu budaya daerah atau ritual adat melalui lagu. Ada nilai-nilai khusus yang mau disampaikan melalui lagu diantaranya mengangkat adat budaya asli Ketapang,” tuturnya.

Alex menilai, lagu ini memiliki ciri khas tersendiri dan juga unik, hal tersebut menurutnya kebanyakan lagu pop kreasi hanya bernuansa dayak sedangkan lagu ini seperti ada ritual adat dan tidak bisa dibuat berjodeg layaknya lagu lain.

“Lagu ini berisi bahasa-bahasa adat untuk berdoa kepada tuhan atau kami bilang duwata. Tidak semua paham isinya terutama anak muda yang tidak mempelajari adat namun kalau sering mengikuti acara adat pasti paham dan senang mendengar lagu ini,” terangnya.

Alex berharap melalui lagu ini semoga ke depan makin banyak orang yang turut melestarikan adat budaya dengan caranya masing-masing termasuk dalam sebuah lagu, sama halnya yang dilakukan dirinya beserta pihak yang terlibat dalam pembuatan lagu ini.

Meskipun diakuinya dirinya hanya memiliki suara yang pas-pasan namun karena semangat untuk melestarikan adat istiadat dan budaya dirinya memiliki motovasi dalam hal ini.

“Saya hanya punya semangat untuk melestarikan adat istiadat dan budaya saja,” akunya.

Untuk itu, Alex berharap semoga dengan mendengarkan lagu ini anak-anak muda dan generasi seterusnya bisa mengetahui khususnya adat istiadat dan budaya Dayak. Mereka bisa lebih mudah dan tertarik mengetahuinya karena dinyayikan. Selain itu ia berharap agar para generasi penerus tidak malu mengaktualisasikan adat budaya lokal yang ada sebab adat istiadat sebenarnya merupakan kekayaan dan kelebihan yang dimiliki Indonesia.

“Mari mengaktualisasikannya dalam kehidupan. Baik dalam seni budaya seperti lagu ini, tarian, gambar, tulisan atau lain sebagainya sesuai minat dan bakat masing-masing,” tukasnya. (Agsfy)