LINTASKAPUAS I KETAPANG – Bupati Ketapang, Alexander Wilyo, Menghadiri kegiatan Festival Kuliner Pasundan Ketapang di Gedung Pancasila Ketapang, Minggu (23/11/2025). Dipenuhi aroma rempah, Festival Kuliner Khas Sunda itu berlangsung dengan meriah.
Dalam momentum yang mempertemukan ragam cita rasa dan identitas budaya tersebut, Bupati menyapa langsung warga Sunda serta memberikan apresiasi kepada Paguyuban Pasundan Kabupaten Ketapang atas dedikasinya menjaga harmoni dan memperkaya keberagaman budaya di Tanah Kayong.
Menurut Bupati, Masyarakat Sunda merupakan bagian penting dari rumah besar Ketapang, rumah yang berdiri di atas nilai toleransi, gotong royong, dan keharmonisan antar-etnis bersama suku Dayak, Melayu, Jawa, Tionghoa, dan kelompok masyarakat lainnya.
“Saya bangga melihat saudara-saudara etnis Sunda hidup harmonis dan memberi warna bagi Ketapang. Di tanah Tanjungpura yang damai ini, budaya memperkaya keberagaman kita,” ucap Bupati.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati sedikit bercerita tentang tokoh inspiratif dari Jawa Barat yakni, Kang Dedi Mulyadi. Yang mana Ia berpendapat pentingnya membangun peradaban melalui sektor budaya.
Menurutnya, Ada empat indikator peradaban, pertama makanan, pakaian, seni dan sastra.
Hal ini dapat dicontohkan dengan negara-negara seperti Amerika, Korea, dan Tiongkok yang tumbuh besar karena mampu mengolah potensi budaya menjadi kekuatan ekonomi dan identitas global.
Maka dari itu, Kekuatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari kekayaan sumber daya alam, tetapi dari kemampuan mengelola budaya secara kreatif.
“Saya memandang pesan tersebut sangat relevan bagi warga Sunda di Ketapang, dan saya mengajak seluruhnya untuk terus menghidupkan kreativitas sebagai ciri utama masyarakat Sunda,” tuturnya.
“Sama seperti contoh tersebut, Kekuatan Sunda ada pada manusianya yang kreatif. Dari kuliner, seni, pakaian, hingga sastra, semuanya bisa berkembang besar tanpa harus menguras alam,” timpalnya.
Adapun sajian kuliner Sunda seperti karedok, nasi timbel, hingga Sate Maranggi berpotensi menjadi ikon UMKM lokal.
Begitu juga baju Komprang dan iket Sunda yang dapat memperkaya ragam busana budaya, serta gamelan dan jaipong yang mampu menyemarakkan kesenian daerah.
Melalui kolaborasi Paguyuban Pasundan dengan Pemerintah Kabupaten Ketapang, Bupati melihat ruang yang semakin terbuka bagi pengembangan seni dan budaya Sunda di Bumi Kayong.
Untuk itu, Ia menegaskan bahwa kegiatan-kegiatan budaya ini harus terus diperkuat agar memberi dampak besar bagi persatuan dan perekonomian lokal.
Terlebih, Ia juga menyampaikan rencana besar pemerintah daerah melalui Festival Tanah Kayong, sebuah agenda seni-budaya terpadu yang akan menjadi magnet wisata dan ajang unjuk kekayaan budaya dari seluruh etnis di Ketapang.
“Festival Tanah Kayong akan menjadi panggung besar bagi semua etnis. Saudara-saudara Sunda tentu menjadi bagian penting dari perjalanan itu.
Untuk itu, semangat kebersamaan, dan pandangan strategis ke depan, saya berharap masyarakat Sunda terus menjadi bagian aktif dalam memajukan budaya, memperkuat harmoni sosial, dan membangun Ketapang sebagai daerah yang kreatif, inovatif, dan berperadaban,” harapnya.
“Komitmen ini sejalan dengan Visi Pembangunan Berkeadilan untuk Kabupaten Ketapang Maju dan Mandiri, di mana seluruh etnis memiliki ruang setara untuk berkarya, berkontribusi, dan tumbuh bersama,” tutupnya.
(Ags)










