Hutan Kritis Disulap Menjadi Maloy Indah

0
724
Foto di kawasan wisata Maloy Indah. (Foto Istimewa)

LINTASKAPUAS I KETAPANG – Maloy Indah merupakan salah satu Objek Wisata Alam yang berada di dalam kawasan Hutan Lindung Bukit Belaban Tujuh atau Bukit Belaban Rayak yang terletak di Desa Sungai Melayu, Kecamatan Sungai Melayu Rayak, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Wisata Alam Maloy Idah ini sendiri Didirikan atas inisiasi Pemerintah Desa Sungai Melayu dan Masyarakat Sungai Melayu demi menjaga kelestarian alam serta lingkungan habitat sekitar, yang mana Wisata Alam Maloy Indah ini di kelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BumDes) melalui Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD).

Tidak hanya itu pengelolaan Hutan Lindung ini juga didorong oleh NGO Earthqualizer, dengan mengusulkan akses kelola kawasan hutan melalui legalitas akses kelola perhutanan sosial dengan skema hutan desa kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dengan nama (HPHD) Balaban Rayak no SK 4670/MENLHK_PSKL/PKPS/PSL.0/7/2018.

Kepala Desa (Kades) Sungai Melayu Y.R Suandi saat dikomfirmasi mengatakan, didirikannya Wisata Alam Maloy Indah guna menjaga kelestarian hutan sekaligus alam serta habitat yang berada di sekitar.

“Maloy Idah ini kita dirikan guna menjaga kelestarian alam sekitar di dalam Kawasan Hutan Lindung Bukit Belaban Tujuh atau Bukit Belaban Rayak melalui BumDes yang di kelola oleh LPHD,” kata Suandi Senin (31/08/2020) sore.

Ia menjelaskan, wisata Alam Maloy Idah ini sendiri banyak menawarkan panorama pemandangan yang sangat indah yang bisa di saksikan sendiri dari ketinggian setiap bukit-bukit yang ada di sekitar.

“Di wisata Bukit Maloy Indah ini kita bisa merasakan kehadiran luas bentang alam yang sangat indah dari ketinggian setiap bukit yang kita daki dengan merasakan indahnya paromana pemandangan,” jelasnya.

Ia menambahkan, nama Maloy Indah sendiri diambil dari nama buah yaitu Durian Maloy yang mana di kawasan bukit tersebut dulunya banyak terdapat tanaman Pohon Durian Maloy peninggalan dari leluhurnya.

“Nama Maloy kita ambil dari nama Buah Durian Maloy yang terkenal dengan rasanya yang sangat lezat dan lunak,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Nikolaus Sukur mengatakan dalam rangka menjaga kelestarian alam serta memulihkan fungsi hutan yang sebelumnya sempat rusak akibat kebakaran hutan, pihaknya mengakui sudah melakukan kerja sama dengan pihak PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA Group) yang bergerak di perkebunan sawit di Kecamatan Sungai Melayu Rayak.

“Sudah ada sembilan ribu yang kita tanam, sesuai spot – spotnya. Ada durian, mentawa, karet, kopi, jengkol, cempedak, ” terang Nikolaus, Minggu (30/08/2020).

Lanjut Nikolaus menjelaskan, dengan adanya Memorandum of Understanding (MoU) dengan pihak BGA, pihaknya sudah membuat program penanaman pohon 3 ribu batang pohon untuk luas lahan 17 Hektar.

Diakuinya, saat ini pihaknya terus membuka diri untuk kerjasa dengan pihak lain, khususnya pihak pemerintah daerah agar dapat mensupport pihaknya dalam pengembangan pemanfaatan hutan yang berbasis masyarakat, sehingga memberikan dampak kepada ekonomi masyarakat sekitar.

Sementara itu Eka Kurnia Pambudi Koordinator Kalimantan Yayasan Earthqualizer mengungkapkan, bahwa pihaknya akan selalu mendorong pemanfaatan hutan lindung menjadi objek wisata, selama tidak melanggar regulasi yang ada.

“Masyarakat dapat memanfaatkan potensi yang ada yang di sesuaikan dengan isu strategis/krusial di desa serta tidak bertentangan dengan regulasi yang ada,” tuturnya.

Selain itu Eka menilai, dengan minimnya lahan yang ada saat ini, masyarakat sangat terbantukan dengan adanya skema -skema legalisasi akses dari KLHK di bidang perhutanan sosial dengan skema hutan desa. apalagi menurutnya ketimpangan penguasaan Sumber Daya Alam (SDA) dan lahan, jika tidak dilakukan pengelolaan secara komprehensif bisa memicu konflik lahan dimasa mendatang.

“Kami juga mendorong tapi dengan komitmen dari tingkat tapak (bawah) karena banyak regulasi yang dikeluarkan pemerintah, kebijakan belum menyentuh dan diketahui oleh masyarakat sehingga kami merasa perlu untuk dilakukan upaya -upaya percepatan,” tukasnya. (Ags Fy)