Jadikan Perbedaan Sebagai Alat Perekat, bukan Alat Memecah Belah Bangsa

0
1302

LINTASKAPUAS I SINTANG – Wakil Bupati Sintang Drs. Askiman, MM mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Sintang untuk menjadikan Perbedaan sebagai alat perekat, bukan menjadikannya sebagai alat Pemecah belah Bangsa.
“Perbedaan bukan membawa kita kepada alam perpecahan dan jurang pemisahan tetapi perbedaan itu merupakan sesuatu yang indah bagi kita, ” ungkap Askiman saat menghadiri Perayaan Malam Tahun Baru Imlek 2570 di Kelenteng Kuanti Jalan Masuka Pantai Kelurahan Kapuas Kanan Hilir Kecamatan Sintang pada Senin(4/2/2019)

Ia juga mengajak seluruh masyarakat Sintang untuk tetap saling peduli antar sesama, peduli kepada lingkungan, sehingga akan tercipta kerharmonisan yang menjadi jargon Pemkab Sintang.
“Saat akan mengakhiri sambutan saya selalu menyampaikan kalimat kasih disemai kejayaan dituai. Kalimat ini memiliki banyak makna, yang artinya ajakan untuk senantiasa menyemai bahasa kasih di dalam hati pribadi kita, tanamkan bahasa kasih kepada semua suku bangsa dan agama. Maka kehidupan damai akan terjadi di Sintang ini. Kita ini beragam maka perlu menciptakan suasana yang damai. Kemarin terjadi suasana yang tidak enak di Sintang ini” terang Askiman.
“Kami memberikan apresisasi kepada jajaran Polres Sintang, Kodim 1205 Sintang, Kejaksaan Negeri Sintang, Pengadilan Negeri Sintang dan semua pihak yang sudah cepat menanggapi kondisi ini dengan adanya penyelesaian secara damai melalui sebuah keputusan yang baik. Keputusan ini tidak melihat menang dan kalah. Tetapi keputusan ini diambil dari hati yang dalam. Masyarakat Tionghoa dengan rendah hati menyepakati tugu bambu dan tugu jam untuk steril dari atribut budaya dan agama. Kedua tugu disepakati diharamkan untuk dipasangi semua simbol agama dan budaya apa pun di Sintang ini” tambah Wakil Bupati Sintang.
“Pemindahan lampion yang sudah terpasang di kedua tugu oleh masyarakat Tionghoa, tanpa tekanan dari pihak manapun. Tetapi karena kesadaran sendiri meskipun sudah ada ijin dari Dinas Lingkungan Hidup. Berdasarkan kesepakatan kami, maka postingan yang mempersoalkan pemasangan lampion, pemberitaan mengenai persekusi terhadap masyarakat Tionghoa harus dihapus. Kalau masih ada maka tindakan hukum akan diambil. Ini keputusan yang bijak. Kami menghimbau kepada seluruh masyarakat agar menghentikan postingan di media sosial yang mengandung unsur kebencian kepada kelompok manapun. Gunakan media sosial secara bijak. Hentikan postingan isu SARA yang membawa dampak perpecahan, dan postingan cacian makian. Itu bukan budaya Bangsa Indonesia. Gunakan media sosial untuk promosi usaha, untuk memberikan layanan kasih” ajak Askiman.
“Kita harus menghargai bahwa lambang negara burung garuda yang dijadikan simbol Pancasila itu diambil dari simbol kerajaan dan masyarakat Sintang. Maka mari kita menerapkan nilai Pancasila di Sintang ini. Kejadian kemarin bukan untuk disesali, tetapi peringatan kita untuk menghargai satu dengan yang lain. Panitia perayaan tahun baru imlek juga saya lihat terdiri dari multi etnis. Ini sangat membahagiakan karena partisipasi berbagai lapisan masyarakat. Sintang ini rumah kita bersama. Maka bersatulah dalam perbedaan.
Edi Hermanto dari Majelis Agama Konghucu Kabupaten Sintang menyampaikan bahwa Sintang harus harmonis. “tidak ada perselisihan, masyarakat bisa hidup berdampingan. Mari kita mengembangkan amal kebajikan di dunia. Sabda Nabi Konghucu menjelaskan bahwa manusia dari empat penjuru dunia adalah saudara. Saya berpesan agar masyarakat yang hadir untuk menjaga keamanan di sekitar tempat ini” terang Edi Hermanto.