Saturday, October 3, 2026

Kabut Asap Kian Pejak di Sintang, PT. BHA dan Jurnalis Sintang bagikan Masker kepada warga

0
16

LINTASKAPUAS | SINTANG– Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kian mengganggu aktivitas warga di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Di tengah kondisi itu, PT Buana Hijau Abadi (BHA) bersama Ikatan Jurnalis Sintang membagikan masker kepada masyarakat di kawasan Simpang Polres Sintang, Selasa (8/9/2026).

Corporate Affairs dan CSR PT BHA, Paulus Nokus mengatakan bahwa Kegiatan sosial ini merupakan bagian dari kepedulian perusahaan terhadap dampak kesehatan yang ditimbulkan kabut asap. Pembagian masker dilakukan secara langsung kepada pengendara dan warga yang melintas, sebagai upaya mengurangi risiko paparan asap bagi masyarakat.

Ia mengatakan, bantuan penanganan karhutla yang diberikan perusahaan tidak hanya berupa peralatan dan logistik untuk tim pemadam, tetapi juga perlindungan bagi warga yang terdampak asap. Sebelumnya, perusahaan juga telah menyalurkan bantuan sarana-prasarana pemadaman ke Posko Satgas Penanganan Karhutla di BPBD Sintang.

“Untuk hari ini, kami memberikan bantuan logistik untuk tim pemadam kebakaran yang bertugas di lapangan dan saat ini kita membagikan 7500 masker kepada masyarakat kolaborasi dengan kawan-kawan Jurnalis Sintang,” ujar Paulus, usai menyerahkan bantuan di posko satgas.

Ketua Ikatan Jurnalis Sintang, Hery Lingga, mengatakan pembagian masker tidak semata-mata dipandang sebagai kegiatan sosial. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bentuk edukasi kepada masyarakat agar tidak menganggap remeh kondisi udara ketika kabut asap mulai menyelimuti wilayah Sintang.

“Masker yang kami bagikan mungkin sederhana, tetapi pesan yang ingin kami sampaikan jauh lebih besar. Kami ingin masyarakat sadar bahwa kabut asap akibat karhutla bukan sesuatu yang boleh dianggap biasa, karena dapat berdampak terhadap kesehatan,” ujar Hery Lingga.

Menurutnya, masyarakat yang harus tetap beraktivitas di luar rumah perlu meningkatkan kewaspadaan ketika kualitas udara terganggu akibat asap.

Karena itu, penggunaan masker diharapkan tidak hanya dilakukan ketika pembagian masker berlangsung, tetapi menjadi kebiasaan masyarakat ketika kondisi udara mulai dipenuhi asap.

“Ini bagian dari edukasi. Kami ingin mengingatkan masyarakat bahwa menjaga kesehatan di tengah kabut asap adalah tanggung jawab bersama. Jangan menunggu sampai mengalami gangguan kesehatan baru kemudian menyadari bahayanya,” katanya.

Hery menambahkan, peran media tidak hanya sebatas menyampaikan informasi mengenai terjadinya karhutla. Pers juga memiliki tanggung jawab untuk ikut membangun kesadaran masyarakat mengenai dampak yang ditimbulkan.

“Jurnalis bukan hanya memberitakan ketika terjadi kebakaran. Kami juga ingin mengambil bagian dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Ketika ada kabut asap, masyarakat harus tahu bagaimana melindungi dirinya dan keluarganya,” jelasnya.

Ia mengapresiasi langkah PT BHA yang tidak hanya memberikan dukungan berupa sarana dan prasarana pemadaman kepada tim penanganan karhutla, tetapi juga ikut memperhatikan masyarakat yang terdampak asap.

“Kami mengapresiasi kepedulian PT BHA. Penanganan karhutla memang membutuhkan kolaborasi. Bukan hanya pemerintah dan petugas pemadam, tetapi juga perusahaan, media dan masyarakat harus bergerak bersama,” ungkap Hery.

Menurutnya, upaya pencegahan dan penanganan karhutla harus berjalan beriringan. Di satu sisi, api harus segera ditangani, sementara di sisi lain masyarakat harus mendapatkan informasi yang cukup mengenai risiko asap dan langkah perlindungan diri.

“Harapan kami, kegiatan seperti ini tidak berhenti pada pembagian masker saja. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk bersama-sama mencegah karhutla dan menjaga lingkungan,” pungkasnya.

error: Content is protected !!