
LINTASKAPUAS | SINTANG – Kepedulian Kapolres Sintang AKBP Sanny Handityo, S.H., S.I.K., kembali menyentuh hati publik. Ia turun tangan langsung menangani kasus memilukan seorang anak di Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang, yang menderita infeksi parah sejak usia dini akibat sengatan tawon. Kisah anak tersebut viral di media sosial dan menyita perhatian banyak pihak.
Adek Boy nama panggilannya diketahui tersengat tawon sejak berusia sekitar 3 tahun. Luka sengatan yang terus digaruk menyebabkan infeksi bernanah dan semakin memburuk dari waktu ke waktu.
Infeksi tersebut menyebar dari tumit hingga ke lutut, bahkan merusak tempurung lututnya. Kondisi tersebut diperparah dengan keterbatasan fasilitas kesehatan di Ambalau, wilayah pedalaman yang harus ditempuh sekitar 9 jam perjalanan untuk mencapai rumah sakit besar.
Akibat kondisi lukanya yang menimbulkan bau nanah, Adek Boy sempat mengalami perlakuan menyedihkan. Ia pernah dikejar anjing saat berjalan ke sekolah, hingga akhirnya berhenti sekolah selama hampir lima tahun. Baru pada usia sekitar 10 tahun, ia kembali bisa mengenyam pendidikan berkat kepedulian seorang guru yang dengan sabar mengantar dan menjemputnya menggunakan sepeda motor agar tetap bisa belajar.
Mengetahui kondisi tersebut, Kapolres Sintang AKBP Sanny Handityo langsung bergerak cepat. Ia memerintahkan jajarannya untuk melakukan pengecekan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, hingga tenaga medis dan dokter ortopedi, guna memastikan penanganan terbaik bagi anak tersebut.
“Ini adalah persoalan kemanusiaan. Anak ini harus mendapatkan haknya untuk hidup sehat dan mendapatkan pendidikan yang layak. Kami berupaya semaksimal mungkin agar penanganan medisnya bisa dilakukan dengan baik dan, jika memungkinkan, tanpa amputasi,” ujar AKBP Sanny dengan nada penuh empati.
Hasil pemeriksaan awal menggunakan rontgen menunjukkan kondisi yang cukup berat, di mana tulang mengalami pergeseran, otot memendek, serta infeksi yang telah menjalar hingga ke tulang. Pada tahap awal, amputasi sempat menjadi salah satu opsi medis. Namun demikian, Kapolres Sintang menegaskan pihaknya terus berkoordinasi untuk mencari alternatif pengobatan terbaik dengan memanfaatkan fasilitas BPJS dan rujukan medis yang diperlukan.
Tidak hanya fokus pada penanganan medis, AKBP Sanny juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi layanan kesehatan di wilayah pedalaman seperti Ambalau. Menurutnya, kasus ini menjadi pengingat pentingnya perhatian bersama terhadap keterbatasan akses dan fasilitas kesehatan bagi masyarakat di daerah terpencil.
Ia pun memohon doa dan dukungan dari seluruh pihak agar proses pengobatan anak tersebut berjalan lancar dan mendapatkan hasil terbaik. “Kami mohon doa dari semua pihak. Semoga ada jalan terbaik untuk kesembuhan anak ini,” ungkapnya.
Kasus ini terungkap setelah sebuah video yang memperlihatkan kepedulian guru terhadap sang anak viral di media sosial. Di balik viralnya kisah tersebut, kepedulian dan langkah cepat Kapolres Sintang AKBP Sanny Handityo menjadi secercah harapan, sekaligus bukti bahwa kehadiran negara melalui aparatnya masih dirasakan oleh masyarakat hingga ke pelosok daerah.










