
LINTASKAPUAS.COM,SINTANG-Masih ingat dengan Andrinof Chaniago, mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dalam Kabinet Kerja Republik Indonesia. Pria yang kini menjabat sebagai komisaris BRI menyambangi Sintang, Selasa (21/2).
Kedatangan Andrinof Chaniago ke Sintang untuk menghadiri undangan Majelis Daerah (MD) Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sintang. Akademisi Universitas Indonesia ini akan menjadi pembicara dalam kegiatan stadium general MD KAHMI Sintang membahas pembangunan waterfront city.
Andrinof datang tidak sendiri. Ia bersama Direktur Perkotaan Perumahan dan Permukiman Bappenas, Tri Dewi Virgiyanti. Tiba di Bandara Susilo, Selasa sore, keduanya disambut Bupati Sintang Jarot Winarno, Wakil Ketua DPRD Sintang Terry Ibrahim, staf ahli serta pengurus MD KAHMI Sintang.
Tiba di Sintang, Andrinof dan Tri Dewi Virgiyanti langsung diajak menikmati kuliner di Saka Tiga. Kemudian bertolak menuju Karaton Al Mukarramah menggunakan alkon (transportasi tradisional sejenis longboat-red).
Kedatangan rombongan disambut pihak Kesultanan Sintang dan diajak melihat peninggalan sejarah, diantaranya replika burung garuda. Kemudian menyeberang lagi ke Dermaga Sungai Durian. Terakhir bersantai di pinggiran Sungai Melawi dengan menghadap Saka Tiga.
Diwawancarai usai mengunjungi sejumlah tempat di Sintang, Andrinof menilai kawasan Saka Tiga sangat layak dan bagus prospeknya untuk pariwisata. Apalagi dikelilingi banyak aset pendukung. Pertama kontur alamnya yang indah yakni adanya pertemuan dua sungai Menurutnya tidak banyak daerah di Indonesia yang punya keunggulan seperti itu. “Ini termasuk langka. Dengan view yang bagus, suasana alam yang unik, ditambah dengan aset budaya berupa peninggalan sejarah, potensinya sangat bagus,” tegasnya.
Bupati Jarot Winarno mengatakan bahwa dengan potensi Sintang yang luar biasa, tentu akan semakin indah kalau dibangun waterfront city. Contohnya di Pontianak yang sudah ditata rapi. Yang lebih bagus lagi di Kuching, Malaysia.
“Tapi, di Pontianak hanya satu sungai saja yang berhadapan. Di Kuching memang sangat indah namun sungainya tidak hidup. Sementara di Sintang punya Saka Tiga yang merupakan pertemuan antara dua sungai, inilah keunggulannya,” katanya.










