Lusi : Masyarakat Perbatasan Tak Butuh Bansos, Mereka Butuh Jalan, Air Bersih, Pendidikan dan Layanan Kesehatan Gratis

0
1735
Anggota DPRD Sintang, Lusi, S.PDK

LINTASKAPUAS | SINTANG – Masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan khususnya di wilayah kecamatan Ketungau Hulu dan Kecamatan ketungau Tengah Kabupaten Sintang menegaskan bahwa masyarakat tidak membutuhkan bantuan sosial (bansos), program transmigrasi, maupun makanan bergizi gratis semata. Yang mereka butuhkan justru adalah pembangunan infrastruktur dasar yang nyata dan berkelanjutan.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah(DPRD) Sintang, Lusi kepala Lintaskapuas.com saat ditemui usai mengikuti rapat paripurna Penyampaian laporan Pansus DPRD Sintang terkait RPJMD kabupaten Sintang tahun 2025-2029 di sekretariat DPRD Sintang kemarin.

Anggota DPRD Sintang daerah Pemilihan Sintang II ini menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan masih belum merata dan kerap terhambat oleh keterbatasan anggaran dan tantangan geografis.

“Masyarakat perbatasan ingin hidup setara dengan masyarakat di perkotaan. Mereka butuh akses, bukan belas kasihan. Pemerintah harus hadir dengan solusi jangka panjang, bukan sekadar program populis. Jadi pemerintah pusat dan daerah segera mengalihkan fokus dari program bantuan konsumtif ke pembangunan infrastruktur dasar dan pelayanan publik yang berkualitas sebagai jalan menuju kemandirian wilayah perbatasan.

Lebih detail lagi, Lusi mengaspirasikan bahwa masyarakat menginginkan agar pemerintah lebih fokus pada pembangunan jalan darat yang layak, akses terhadap air bersih, layanan pendidikan yang berkualitas, dan fasilitas kesehatan yang gratis dan mudah dijangkau.

“Kami masyarakat perbatasan bukan minta disuapi, kami hanya ingin dibukakan akses. Kalau jalan bagus, air bersih tersedia, sekolah dan puskesmas bisa dijangkau dengan mudah, masyarakat di perbatasan bisa mandiri, ” ungkapnya.

Menurut Lusi , bansos hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan akar persoalan kemiskinan di daerah perbatasan, justru dengan bantuan sosial terebut membuat masyarakat penerima bansos malas bekerja, dan ada sebagian menyalah gunakan bansos tersebut untuk minum-minuman keras sampai perjudian, ” paparnya.

Selain itu, Anggota Dewan Dari Daerah pemilihan ketungau Hulu – Ketungau tengah ini juga menilai program-program yang masuk ke wilayah perbatasan seperti program transmigrasi dan bantuan makanan bergizi gratis lebih cocok untuk daerah bencana atau rawan gizi, bukan untuk wilayah yang sebenarnya kaya akan potensi alam namun terisolasi oleh minimnya infrastruktur.

“Yang kami butuhkan itu jalan dan jembatan darat yang bisa dilalui semua musim, air bersih, dan sekolah yang ada gurunya. Kami ingin maju, bukan dikasih bantuan terus-menerus yang membuat masyarakat malas,” pungkasnya.