Poros Ketiga Ancaman Baru Bagi Calon Petahana & Koalisi PDIP-PAN

0
278
Pengamat Politik Kalbar, Ireng Maulana

LINTASKAPUAS I SINTANG- Prediksi Sebelumnya Pilkada Sintang akan berlangsung Head to Head antara pasangan Jarot-Sudiyanto(JADI) dengan Yohannes Rumpak – Syarifuddin(Yes)

Namun Prediksi tersebut terpatahkan dengan munculnya poros ketiga pasangan Askiman-Hatta(KITA)setelah mendapat dukungan dari koalisi dua Partai Politik.

Pengamat Politik Kalbar, Ireng Maulana mengatakan jika Pilkada Sintang Sebelumnya berlangsung Head to Head maka kemungkinan akan terjadi Kompetisi elektoral yang cukup berat bagi petahana, dan resiko tidak terpilih juga terbuka karena tajamnya perkubuan yang berdimensi latar belakang identitas kesukuan.

“Dengan muculnya poros ketiga memberikan optimisme bagi petahana untuk melihat jika potensi menang masih ada karena diyakini kelompok poros ketiga ini akan lebih banyak mereduksi ceruk suara pemilih paslon koalisi PDI-P dan PAN daripada basis pemilih petahana, ” ucap Ireng.

Jebolan Magister Politik Amerika ini juga mengatakan dengan munculnya poros ketiga yang akan ikut berkompetisi dalam Pilkada Sintang tersebut tentu akan menambah percaya diri berlebihan pasti menang bagi calon petahana, akan tetapi bisa juga menyesatkan.
“Bisa saja munculnya poros ketiga ini menjadi ancaman yang serius bagi Calon Petahana dan Calon Koalisi PDIP-PAN, ” tegas Ireng.

Sekarang, Lanjut Mantan Akademisi Universitas Tanjung Pura ini, mari kita baca psikologis dan posisi poros ketiga dalam kalkulasi dari keuntungan petahana maupun keuntungan paslon PDI-P dan PAN.

Sebaliknya poros ketiga juga dapat berubah menjadi ancaman bagi mereka yang terlalu yakin seolah olah ini hanyalah pertarungan antara Petahana versus Paslon PDI-P dan PAN.

Padahal jika poros ketiga definitif mendapatkan satu tiket baru ini akan menjadi kompetisi yang simultan dan saling incar satu sama lainnya tanpa menyisakan satu pesaing pun untuk di lawan.

Intens dan amat sangat tergantung kepada ketersediaan logistik, postur logistik, stamina logistik, distribusi logistik dan kenekatan plus kenekatan yang berulang ulang untuk menang.

Dari analogi tersebut kita dapat memilah dari tiga pasang tersebut figur mana yang paling akan memiliki karakter dan kemampuan tersebut.
Mungkin kandidat itu yang akan menang dengan logistik dan kenekatan terakhir.

Di dalam pikiran poros ketiga mereka tentu saja secara rasional bukan instrumen bagi memuluskan salah satu paslon untuk mudah menang.

Asumsi yang meletakkan bahwa poros ketiga akan mempermudah salah satu paslon untuk menang tentu saja mengusik kehormatan dan harga diri kandidat dari poros ketiga.

Maju untuk mengalah dan menyerahkan kemenangan pada orang lain dari dalam ring kompetisi yang sama sangat bertolak belakang dengan keyakinan banyak orang tentang kekuasaan.
Tidak ada kompensasi apapun yang dapat menggantikan harga diri dan kehormatan, sehingga sementara poros ketiga diyakini sangat independen sebagai kandidat baru yang akan bertarung sungguh-sungguh dan berniat mengalahkan kandidat lain yg sudah ada.
Poros ketiga ancaman baru baik bagi petahana maupun untuk paslon PDI-P dan PAN. Namun, prediksi yang menilai poros ketiga akan lebih menguntungkan petahana dan sedikit menguntungkan paslon PDI-P dan PAN dapat dibenarkan jika dengan tolak ukur pembelahan pemilih berdasarkan karakter kesukuan, agama dan identitas secara linear.
Padahal, kompetisi elektoral seperti pilkada amat sangat dinamis dengan kecenderungan perubahan yang cepat.
Sekarang, kita tunggu takdir politik pilkada sintang jika head to head petahana versus paslon PDI-P dan PAN, dan atau apabila poros ketiga terbentuk sehingga lahirlah keganjilan baru dengan dinamika yang baru pula bagi kubu pasangan manapun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here