Warga Nanga Lebang Dambakan Jaringan Seluler

0
1671
Ilustrasi

LINTASKAPUAS.COM-SINTANG, Tidak dipungkiri, sampai saat ini masih banyak daerah yang belum terjangkau jaringan seluler di Kabupaten Sintang, terutama di wilayah pedalaman. Padahal, fasilitas ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk berkomunikasi.

Kondisi belum adanya jaringan seluler bahkan terjadi di Desa Nanga Lebang, Kecamatan Kelam Permai. Padahal, desa ini tidak jauh dari ibu kota kabupaten. Hanya saja, lokasinya agak terisolir. Letaknya yang berada di pinggir Sungai Kapuas, menyebabkan akses darat belum terhubung sepenuhnya.

Kepala Desa Nanga Lebang, Syafarudin, mengatakan untuk menuju ke ibu kota kabupaten bisa melalui dua jalur. Jalur darat harus menyebrang sungai dengan biaya 15 ribu satu kendaraan kemudian dilanjutkan dengan melewati ruas jalan perkebunan sawit. Jarak tempuh bisa sampai satu jam lebih. Itu tergantung cuaca. Dan Rp 140 ribu rupiah jika menggunakan Spead Boat.

Selain dihadapakan dengan kondisi infrastruktur yang belum memadai, di desa dengan jumlah penduduk 1.300 jiwa itu juga belum tersentuh jaringan seluler. Kondisi ini, sudah berlangsung sejak lama.

Setiap kali ada kesempatan, warga desa berupaya mengajukan ke pemerintah. Namun, penantian untuk mendapatkan fasilitas itu belum juga terwujud hingga sekarang.

“Sudah lama kami perjuangkan mengusulkan untuk dibangun tower. Tapi belum ada hasilnya,” kata Syafarudin.

Jika ditilik dari persyaratan jumlah penduduk, Syafarudin yakin 370 kepala keluarga di tiga dusun di desanya mencukupi. Belum lagi jika ditambah dengan desa lain. “Untuk syarat saya rasa sudah terpenuhi. Sudah lama masyarakat mendambakan jaringan seluler,” katanya.

Ketiadaan signal menurut Syafarudin warga merasa tersiolasi. Selama ini kata dia, jika warga ingin berkomunikasi dengan anak dan sanak keluarganya harus mencari lokasi yang tinggi, demi mendapatkan satu balok signal. “Ada tempat tertentu. Di rumah saya ada. Tapi handphone harus di letak di dinding. Kalau diambil ya hilang sinyalnya,” ungkapnya.

Syafarudin mendengar kabar, ada satu provider telekomunikasi yang akan datang mensurvei lokasi pembangunan tower di desanya. Hanya saja, dia belum mendapat kepastian kapan tower itu akan dibangun. “Katanya ada yang mau survey bulan september nanti, cari titik yang bagus. Tapi ndak tahu pasti kapan dibangun towernya. Mudah-mudahan bisa segera terwujud apa yang selama ini dinantikan masyarakat,” harapnya.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Sintang, GA. Anderson, mengaku tower telekomunikasi merupakan hak mendasar berupa penunjang kebutuhan akan akses informasi di masyarakat saat ini sangat dibutuhkan. Selain untuk menunjang jalinan komunikasi dan mencari informasi, jaringan telekomunikasi juga sangat dibutuhkan oleh pemerintahan desa.

Dikatakan pula, ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk membangun tower jaringan telekomunikasi. Mulai dari luas tanah maksimal ukuran 20×20 meter dan titik koordinat. Kemudian jumlah penduduknya harus mencapai 5 ribu jiwa.

“Saat ini kami juga sedang mengupayakan internet masuk desa dengan menggandeng operator jaringan. Desa harus punya jaringan internet untuk bisa mengurus laporan pemerintahan desa. Karena sistem yang sekarang untuk mengirim laporan keuangan dana desa dan segala macam melalui internet, sedangkan jaringan internet di desa sulit,” bebernya.

Menurut Anderson, pihaknya sudah berupaya mengusulkan tower telekomunikasi di 14 kecamatan di Kabupaten Sintang di tahun 2018 saat Musrenbang tingkat kabupaten. Namun, tidak semua kecamatan disetujui. “Semua kecamatan tetap diperioritaskan untuk diusulakn. Tahun ini tower dibangun di daerah perbatasan,” Pungkasnya.