1.407 Masyarakat Yang bekerja di PT. Julong Dirugikan dengan Aksi pemblokiran Jalan Masuk Perusahaan

0
143
Sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat
di wilayah kerja Julong Group Indonesia melakukan pemblokiran jalan masuk perusahaan (FOTO : ISTIMEWA)

LINTASKAPUAS | SINTANG – Sebanyak 1.407 masyarakat setempat yang bekerja di perusahaan Sawit PT. Julong Dirugikan dengan Aksi demostrasi dan pemblokiran Jalan masuk Perusahaan oleh sekelompok warga yang mengatasnamakan masyarakat di wilayah kerja Julong Group Indonesia.

Konsultan Komunikasi PT. Julong, Fathan Sembiring mengatakan dalam aksi demonstrasi yang digelar oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan warga masyarakat di wilayah kerja Julong Group Indonesia yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut menyampaikan 17 tuntutan.

Mirisnya, 17 tuntutan tersebut mesti dipenuhi dalam jangka waktu tujuh hari kerja.

“Tuntutan sebanyak itu tidak mungkin dapat dipenuhi dalam waktu singkat karena ada keputusan-keputusan yang tentu melibatkan banyak pihak, bukan hanya perusahaan dan pada akhirnya, Aksi demonstrasi tersebut berujung pada penggerudukan dan penutupan kantor perusahaan sawit yang mereka tuntut, ” ucap Pathan.

Menurut Pathan dengan adanya aksi penggerudukan dan penutupan kantor perusahaan sawit tersebut berdampak terhadap pendapatan ribuan masyarakat yang bekerja dengan perusahaan sawit tersebut

“Dengan adanya aktifitas ini malahan merugikan masyarakat setempat yang selama ini hidup dari bekerja di perusahaan sawit. Penutupan jalan secara sepihak oleh sekelompok orang tersebut membuat aktivitas pabrik dan perkebunan terhenti yang berdampak hilangnya pendapatan berbasis harian bagi 1.407 orang pekerja sawit yang berasal dari belasan desa setempat, ” ucapnya.

Pintu Gerbang, Pabrik Perusahaan Sawit PT Julong yang di segel menggunakan gembok oleh Sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat diwilayah operasional Perusahaan (FOTO ; IST)

Fathan menjelaskan dampak dari Aktifitas sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat tersebut membuat masyarakat yang bekerja di Perusahaan sawit tersebut tidak bisa masuk ke dalam perusahaan karena akses di tutup paksa.

Selain itu, mereka juga takut untuk pergi bekerja ke perusahaan karena akan dinilai membela perusahaan, dan khawatir menjadi sasaran tindakan kekerasan yang bisa saja terjadi, ” ucap Fathan.

Menurut Fathan taksiran kerugian penghasilan dari sisi masyarakat yang rata-rata mendapatkan Rp 100.000 per hari, maka mereka kehilangan penghasilan sebesar kurang lebih Rp 1.200.000 per orang karena penutupan di kebun dan pabrik yang berlangsung 12 hari.

“Padahal uang sebesar itu biasa mereka gunakan untuk keperluan hidup sehari-hari. Belum lagi kerugian yang harus di tanggung oleh perusahaan yang mencapai hampir 9,2 milyar selama aksi penutupan oleh sekelompok orang tersebut. Yang dampaknya terhadap perputaran uang investasi yang seharusnya beredar di kabupaten Sintang di semua lini bisnis terkait. Rantai nilai bisnis sempat terganggu oleh aksi intimidasi ini yang ternyata merugikan dari segi ekonomi daerah. Padahal, jika uang sebesar dapat berputar di kabupaten Sintang maka akan menstimulus kegiatan ekonomi lain.

Dengan adanya aktifitas pemblokiran dan penyegelan Kantor Perusahaan Sawit oleh sekelompok orang tersebut berdampak terhadap pembagian hasil plasma, Sehingga para petani plasma pun dirugikan.

“Total jumlah kerugian tersebut juga akan mempengaruhi potensi umpan balik perusahaan kepada masyarakat yang bisa diberikan dalam bentuk CSR dan skema pemberdayaan lainnya, ” tuturnya.

Menurut, Pathan, PT WPP, PT GMU, dan PT AGS merupakan bagian dari Julong Group Indonesia yang sudah berinvestasi di Kalimantan Barat khususnya di Sintang sejak tahun 2013 dengan telah mempekerjakan masyarakat sekitar dengan total jumlah 1.969 orang.

“Dari total tersebut, 71% di antaranya adalah masyarakat setempat atau sekitar 1.407 orang yg terserap bekerja di perusahaan, “jelasnya.

Fathan menyayangkan dengan adanya aksi oleh sekelompok orang tersebut menggunakan cara-cara intimidatif, dan tidak mengedepankan komunikasi yang baik. Padahal, perusahaan sangat terbuka dengan pihak-pihak yang memilih untuk berdialog dan mencari solusi bersama. Sekelompok orang yang mengatasnamakan kepentingan tersebut juga harus dipertanyakan mandat yang mereka bawa karena faktanya aksi mereka malahan merugikan masyarakat setempat yang ikut bekerja di perusahaan.

Masyarakat menjadi terganggu aksesnya untuk bekerja ke perusahaan dan kehilangan penghasilan, “ucapnya.

Fathan menambahkan penyegelan dan penutupan yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut sudah berhasil dibuka. Kegiatan provokasi masyarakat dengan menutup akses kebun selama 12 hari dan menyegel pabrik selama 3 hari oleh sekelompok orang tersebut diharapkan tidak terjadi lagi kedepannya.

“Terhadap Aktifitas tersebut, tidak ada tuntutan adat atau hutang biaya adat kepada pihak manapun, atau kepada pihak perusahaan, yang dalam hal ini adalah Julong Group Indonesia area Sintang

Fathan menambahkan bhwa Selama ini Julong Group Indonesia sudah bekerja sesuai mekanisme peraturan perundangan, bahkan Pada Januari 2022 lalu, Julong Group Indonesia yang diwakili oleh PT WPP, PT GMU, dan PT AGS mendapatkan Anugerah CSR Awards dari Pemerintah Kabupaten Sintang atas partisipasinya dalam membantu masyarakat Sintang menghadapi musibah banjir pada Oktober – November 2021 silam.

Julong Group Indonesia berkomitmen untuk selalu mendatangkan manfaat kepada masyarakat yang. Perusahaan juga membuka peluang untuk berkolaborasi dengan berbagai pihak terkait agronomi kebun, optimalisasi panen, pengembangan komunitas, dan pengembangan lainnya.