Gudang ‘Seng’, Saksi Penumpasan GPRS dan Paraku di Kapuas Hulu

0
2610
Gudang ‘Seng’ logistik milik TNI saat menumpas GPRS dan Paraku di wilayah pabatasan pada tahun 1972
Gudang ‘Seng’ logistik milik TNI saat menumpas GPRS dan Paraku di wilayah pabatasan pada tahun 1972

LINTASKAPUAS.COM,KAPUAS HULU-Penumpasan Paraku dan GPRS (pasukan gerakan rakyat Serawak) di wilayah perbatasan kapuas hulu masih menyisakan cerita dan saksi sejarah. Pada tahun 1972 TNI membangun sebuah gudang peluru di desa Lanjak kabupaten kapuas hulu. Oleh masyarakat setempat, gudang yang bertuliskan ‘logistik TNI’ itu disebut gudang seng, karena seluruh bangunan sebagian besar menggunakan material seng.

Tidak sulit untuk mencari gudang seng yang di bangun TNI di tengah-tengah kota kecamatan Batang Lupar, yakni desa Lanjak. Dari Kota Putussibau hanya membutuhkan waktu dua jam perjalanan darat menggunmakan mobil. Ketika masuk kota lanjak, dapat dengan mudah mencari saksi sejarah TNI dan masyarakat ketika menumpas Paraku dan GPRS yang menelan banyak korban jiwa dari TNI dan sipil.

David Empawai Ketua BPD Lanjak yang juga saksi sejarah penumpasan GPRS Paraku mengatakan waktu itu (1972), ia mengaku masih duduk di bangku SMP. Sehinga bisa mengingat dengan jelas perjuangan TNI bersama rakyat saat menumpas gerakan Paraku dan GPRS di wilayah perbatasan kapuas hulu Kalbar.

“Gudang senjata hanya sebutan saja, oleh TNI ditulis logistik kodam 12 tanjungpura.Gudang tersebut oleh TNI 327 dugunakan untuk menyimpan beras, peluru dan kelengkapan TNI lainnya. Bahkan pada waktu itu warga yang dicurigai terlibat juga dikumpulkan di gudang seng ini.Mereka tidak disiksa, jika tidak terbukti dibebaskan, mereka juga di beri makanan saat ditampung di gudang seng,” jelas David.

Gudang ‘Seng’ logistik milik TNI saat menumpas GPRS dan Paraku di wilayah pabatasan pada tahun 1972
Gudang ‘Seng’ logistik milik TNI saat menumpas GPRS dan Paraku di wilayah pabatasan pada tahun 1972

Mereka yang terlibat, cerita David lagi, mereka yang memberi makan paraku atau GPRS. Masyarakat yang memberi makan paraku atau GPRS juga tidak tahu kalau itu paraku atau GPRS, karenanya oleh TNI di bebaskan lagi. Pada saat penumpasan paraku dan GPRS, tentara Indonesia banyak yang gugur, terutama dari Kompi Parasum (pasukan rakyat sumatra) yang terlibat kontak senjata dengan Paraku.

“Pada saat itu mereka terlibat kontak senjata dengan paraku. Mereka terjebak ranjau-ranjau yang di pasang paraku. Ada tujuh orang anggota Parasum yang tewas pada saat itu, sore hari kami melihat mereka dipikul teman-temannya sudah dalam keadaan meninggal. Darah berceceran dimana-mana, bau amis menyengat di kampung limbung tempat Parasum dam Paraku kontak senjata,” tutur Dapid.

Gudang ‘Seng’ logistik milik TNI saat menumpas GPRS dan Paraku di wilayah pabatasan pada tahun 1972
Gudang ‘Seng’ logistik milik TNI saat menumpas GPRS dan Paraku di wilayah pabatasan pada tahun 1972

Mereka yang tewas dihadang oleh paraku dengan ranjau, dimakamkan di Lanjak, kemudian ada yang dipindahkan ke komplek makam pahlawan Semitau dan juga yang dibawa ke kampung halamannya di Sumatra. Setelah melalui perjuangan bertumoah darah, TNI dibantu masyarakat, akhirnya paraku kembali ke Serawak Malaysia, kemudian muncul lagi GPRS. “GPRS dan Paraku itu berbeda,” jelasnya.

Sejak penumpasan Paraku dan GPRS berakhir gudang seng tak pernah digunakan namun masyarakat selalu menjaga gudang yang berada ditengah-tengah pemukiman penduduk Lanjak. “Gudang seng ini sudah direhab lantainya, sedangkan atap dan dinding dari seng tetap masih seperti dulu. Pemkab kapuas hulu akan menjadikan gudang seng ini sebagai cagar budaya dan bukti sejarah,”terang David.

Direhabnya bangunan gudang seng dan akan dijadikan sebagai cagar budaya dibenarkan oleh wakil bupati kapuas hulu Agus Mulyana SH MH. “Betul gudang logistik TNI itu sudah kami rehab, karena ada bagian bangunan yang sudah rusak. Nanti akan dijadikan cagar budaya dan bukti sejarah. Yang nantinya akan dilengkapi dengan bukti sejarah lainnya,” terang Agus, saat di Lanjak baru-baru ini.