Nilai Passing Grade Terlalu Tinggi, Pemkab Akan Surati Pempus

0
1449
Bupati Sintang, Jarot Winarno

LINTASKAPUAS I SINTANG – Bupati Sintang, Jarot Winarno menilai bahwa nilai Passing Grade yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat untuk menentukan kelulusan para calon CPNS dirasakan terlalu tinggi akibatnya, banyak Putra – Putri Daerah tidak mampu memenuhi standar yang ditetapkan.

“Terkait masalah ini, kita akan layangkan surat kepada pemerintah pusat seperti yang dilakukan Kabupaten/kota lainnya agar ada kebijakan khusus untuk daerah, paling tidak kita akan meminta agar nilai standar passing grade diturunkan, ” ungkap Bupati kepada sejumlah awak media saat perjalanan menuju kecamatan Serawai, senin(12/11)

Jarot mengatakan pelaksanaan tes CPNS di Kabupaten Sintang untuk CAT hingga saat ini masih berlangsung sehingga belum bisa sipastikan berapa jumlah pelamar yang lulus Passing Grade. ” kalau untuk jumlah pelamar yang lulus Passing Grade sampai hari ke -6 ini sementara baru 76 peserta dan terakhir besok, selasa(13/11) kita lihat saja hasilnya seperti apa, apakah memenuhi formasi yang kita miliki, jika tak memenuhi baru kita layangkan surat ” jelasnya.

Intinya, lanjut Bupati, surat yang akan kita layangkan itu, pertama meminta kepada pemerintah pusat agar mengakomodir seluruh peserta CPNS yang dinyatakan lulus Passing Grade agar diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Pegawai Negeri Sipil (PNS).
Kedua, nilai passing grade kita minta diturunkan, sehingga putra-putri daerah kita baik yang di kota maupun di pedalaman dapat kesempatan yang sama. Ketiga, 197 formasi CPNS di Kabupaten Sintang harus di isi oleh putra-purri daerah Sintang.

“Kita harapkan putra-putri terbaik kita yang dapat mengisi jumlah formasi yang ada. Kalau orang luar jangan dulu lah. Karena kita perioritaskan putra-putri kita dulu,” ucapnya.

Menurut Bupati, untuk mencapai nilai passing grade yang ditetapkan oleh pemerintah pusat bukan lah merupakan hal yang mudah seperti mengembalikan telapak tangan. Bukan juga karena anak-anak kita tidak mampu untuk mencapai nilai passing grade.

“Banyak faktor penyebabnya, contohnya minimnya sarana dan prasarana belajar mengajar di wilayah pedalaman. Tentunya, akan menghasilkan lulusan yang agak terbatas juga. Bukan karena tidak mampu bersaing,” pungkas Jarot.