Forkopimda Komit Brantas Praktek PETI

0
911
Kapolres Sintang AKBP Adhe Hariadi Gelar Jumpa Pers terkait dengan Pemberantasan Praktek PETI di kabupaten Sintang

LINTASKAPUAS I SINTANG -Maraknya Praktek Pertambangan Emas Tanpa Izin(PETI) di Kabupaten Sintang menuntut Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum membuat sebuah kesepakatan untuk memberantasnya.

Langkah pertama yang ditempuh yakni Aparat Penegak Hukum menggelar pertemuan bersama dengan Pemerintah Kabupaten Sintang yang berlangsung, pada Sabtu (8/12), di Mapolres Sintang.

Kapolres Sintang, Adhe Hariadi mengatakan, pada pertemuan tersebut ada lima poin yang disepakati bersama untuk penanganan PETI ini. Pertama Forkopimda meminta aliran Sungai Kapuas dan Melawi, termasuk sungai-sungai lain bersih dari PETI.

“Kedua pemerintah daerah harus segera mencarikan solusi untuk pekerjaan lain di luar pekerjaan PETI ini. Ketiga, pekerja penambangan rakyat hanya boleh dilakukan apabila sudah ada WPR. Dan keempat Pemda mesti segera membuat rekomendasi WPR dan diajukan ke gubernur untuk disampaikan ke Kementrian,” jelasnya, saat menggelar jumpa pers dibalai Kemintraan Polres Sintang, Senin (10/12).

Sementara poin kelima, forkopimda akan bersama-sama menidak lanjuti secara hukum apabila masih ada kegiatan PETI di wilayah Kabupaten Sintang. Ditegaskannya, bahwa tuntutan untuk masalah PETI ini sudah banyak, baik dari Mabes Polri dan juga pemerhati lingkungan yang sangat intens terhadap kebersihan sungai untuk keberlangsungan hidup masyarakat.

“Mudah-mudahan bisa kita laksanakan. Sebab itu tidak hanya menjadi tugasnya Polres semata. Kita hanya menjalanlan amant undang-undang nomor dua tahun 2009 tentang Pertambangan,” terangnya.

Ia juga mengatakan, bahwa pihaknya bersama unsur forkopimda yang lain sudah melakukan tinjauan langsung ke lokasi PETI usai rapat tersebut dilakukan, hanya memang bukan dilakukan penindakan, tapi untuk memberikan sosialisasi dan imbauan.

“Kita kasi waktu mereka untuk berpikir agar tidak lagi melakukan kegiatan itu. Apabila masih bekerja, dengan terpaksa kita akan mengambil tindakan tegas melalui jalur hukum,” jelasnya.

Waktu yang diberikan, kata Kapolres sampai pekan depan. Dari rentang waktu tersebut, pihaknya akan terus melakukan imbauan, sosialisasi dan Patroli oleh Pol Airud.

“Kita harap ada kesadaran sendiri dari mereka untuk membongkar mesinnya. Tanpa ada penindakan hukum,” katanya.

Adhe juga meminta kepada awak media untuk dapat membantu mengajak, mengimbau masyarakat agar dapat berhenti dari kegiatan PETI ini dan dapat mencari pekerjaan yang lainnya.

“Memang banyak kendala, dari pengskuan pekerja PETI itu kepada kita, harga sawit dan karet turun, sehingga tak mampu untuk menutupi biaya sehari-hari. Aplagi untuk membiayai anak sekolah, maka dari itu solusi dari pemerintah daerah ini kita harapkan segera terwujud,” pungkasnya.

Dari pantauan Lintaskapuas.com beberapa waktu lalu, di sepanjang perhuluan Sungai Kapuas yang ada di Bumi Senentang, terlihat jelas lanting-lanting PETI berjejeran di pinggiran sungai.

Bahkan itu tak jauh dari pusat Kota Sintang, hanya butuh waktu 15 menit mengunakan speedboard, pemandangan tersebut sudah tampak jelas. Polisi dalam hal ini sebenarnya tak tutup mata, sudah sering kali penindakan dilakukan, hanya memang ibaratnya mati satu tumbuh seribu.